Bayar Rp50.000 Sehari, Ini Alasan Orang Tua Titip Bayi di Bidan Pakem
Polisi mengungkap tarif day care ilegal di Pakem Sleman mencapai Rp50 ribu per hari. Orang tua mengaku menitipkan bayi karena sibuk bekerja.
Digital ilustrasi - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Profesor Paulus Insap Santosa resmi dikukuhkan Guru Besar dalam Bidang Teknologi Informasi pada Fakultas Teknik UGM. Dalam pidatonya ia menyinggung soal Sistem Kekebalan Digital (SKD) yang kudu menjadi perhatian di era teknologi digital saat ini.
Dalam pidatonya yang bertajuk Sistem Kekebalan Digital Untuk Perlindungan Data dan Privasi Masyarakat Awam di Masyarakat 5.0, Paulus menandaskan penggunaan teknologi digital yang makin luas dan kompleks menimbulkan tantangan baru dalam hal keamanan digital. Tidak hanya bagi organisasi, pemerintahan, maupun industri, aspek keamanan digital ini juga merambah bagi individu. Terutama bagi pengguna awam dan remaja yang saat ini menjadi pengguna aktif internet.
BACA JUGA : Salut! Pemda DIY Masuk 3 Besar Provinsi Berdaya Saing
"Khususnya bagi pengguna awam dan remaja, untuk melindungi kita semua dari berbagai ancaman privasi dan keamanan data yang makin lama juga makin canggih dan bervariatif, baik cara maupun metodenya,” tuturnya di Balai Senat UGM, Kamis (6/7/2023).
Ia menambahkan perilaku pengguna teknologi digital yang tidak tepat atau kurang mengikuti praktik keamanan yang sesuai, disebutnya dapat meningkatkan risiko terhadap serangan dan ancaman digital. Beberapa di antaranya seperti pencurian identitas, kebocoran data dan sebagainya. Dengan risiko tersebut, Paulus berpandangan bila penyediaan fasilitas keamanan oleh platform teknologi sudah menjadi keharusan.
"Jika kita memandang ancaman terhadap privasi dan keamanan data merupakan ancaman penyakit, maka kita perlu membangun Sistem Kekebalan Digital," ungkapnya.
Dijelaskan Paulus, pada prinsipnya SKD merupakan sistem keamanan yang diterapkan pada sistem berbasis komputer untuk memantau aktivitas digital dan melindungi pengguna dari berbagai malicious code seperti malware, virus hingga serangan hacker. SKD memiliki prinsip layaknya sistem kekebalan tubuh manusia yang dapat mengidentifikasi ancaman, merespons, dan melakukan tindakan preventif yang diperlukan.
Paulus menambahkan bila SKD memainkan peran penting dalam melindungi privasi. Utamanya untuk memastikan bahwa data tidak terbuka untuk ancaman keamanan seperti pencurian identitas maupun penyalahgunaan informasi.
Namun dalam implementasinya, SKD juga harus mempertimbangkan privasi pribadi dan hak-hak privasi pengguna. Bagi Paulus, SKD yang terlalu agresif dalam memantau aktivitas digital justru bisa kontra produktif karena dapat membahayakan privasi pribadi.
"Sejumlah risiko tinggi berkaitan dengan terlalu agresifnya sistem kekebalan digital antara lain adalah pengaturan parameter keamanan yang kurang tepat, pemblokiran aplikasi atau aktivitas yang tidak tepat, pengumpulan informasi dari pengguna aplikasi tanpa izin, penggunaan sumber daya yang boros dan ketergantungan pada perangkat lain yang justru meningkatkan risiko keamanan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi mengungkap tarif day care ilegal di Pakem Sleman mencapai Rp50 ribu per hari. Orang tua mengaku menitipkan bayi karena sibuk bekerja.
Jadwal Bus KSPN Malioboro–Parangtritis Kamis (20/5/2026) menjadi solusi wisata hemat dengan tarif Rp12.000, memudahkan perjalanan dari pusat kota ke pantai.
Harga emas Pegadaian hari ini Kamis 21 Mei 2026 turun. Emas Antam jadi Rp2,862 juta, UBS Rp2,797 juta, dan Galeri24 Rp2,756 juta.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.