Advertisement

Bukan Makanan, Cyrtodactylus Pecelmadiun Adalah Spesies Cecak Baru

Sirojul Khafid
Minggu, 06 April 2025 - 08:07 WIB
Sunartono
Bukan Makanan, Cyrtodactylus Pecelmadiun Adalah Spesies Cecak Baru Cicak - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Peneliti Indonesia menemukan spesies cecak baru, cecak jarilengkung (genus Cyrtodactylus) yang berasal dari Jawa Timur. Nama ilmiahnya Cyrtodactylus pecelmadiun, yang terinspirasi dari makanan khas pecel madiun.

Habitat Cyrtodactylus pecelmadiun (C. pecelmadiun) berada tidak lebih dari 40 cm dari atas permukaan tanah. Hewan tersebut beraktivitas di berbagai lingkungan yang dekat dengan manusia seperti di tanggul jembatan, tumpukan genteng, dan kebun. Nama pecelmadiun selaras dengan lokasi penemuan yang berada di sekitar Madiun, tepatnya di wilayah Maospati dan Mojokerto.

Advertisement

“Para peneliti ingin mengenalkan ragam kuliner Nusantara melalui dunia sains, sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya dalam deskripsi C. papeda dari Pulau Obi dan C. tehetehe dari Kepulauan Derawan,” kata Peneliti Ahli Madya Herpetologi Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, yang terlibat dalam penelitian, pertengahan Maret 2025 ini.

BACA JUGA: Ilmuwan Jogja Temukan Obat Antikanker dan Diabetes dari Bahan Alam, Sudah Dipatenkan

Cecak jarilengkung C. pecelmadiun merupakan satu dari lima cecak jarilengkung yang telah teridentifikasi habitatnya di Pulau Jawa. Cecak lainnya yaitu C. belanegara (2024), C. petani (2015), C. semiadii (2014), dan C. marmoratus (1831). Penemuan ini menambah keragaman spesies cecak jari lengkung di Jawa yang sudah dieksplorasi sejak zaman Belanda.

Menguatkan Tingginya Keragaman

Penemuan spesies baru ini berawal saat para peneliti pada Maret dan Mei 2023 yang mengumpulkan beberapa spesimen cecak jari lengkung dari Maospati, Kabupaten Magetan dan Mojokerto. Spesimen itu kemudian dibawa ke Museum Zoologicum Bogorienese, BRIN, Cibinong.

Dari ukuran, cecak jantan ini panjangnya 67,2 mm, sedangkan betina 59 mm (SVL, Snout Vent Length atau dari moncong ke pangkal ekor). Bentuk tubuhnya memanjang, kaki depan relatif pendek, sedangkan kaki belakang lebih panjang dibanding kaki depan. Jari kaki tertekuk, ada cakar di ujung jari. Sebagaimana cecak rumah, ekornya mampu beregenerasi dengan panjang 85,9 mm.

Warna kulit bagian punggung gelap, dari cokelat ke hitam, dengan bintik berwarna kuning. Sementara bagian perut putih terang. Warna kulit demikian diduga membantu cecak ini tersamar dengan lingkungannya yang dekat tanah dan relung gelap yang tidak terpapar sinar matahari.

Secara morfologi, C. pecelmadiun memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibanding C. marmoratus (cecak jari lengkung jawa). Pemeriksaan molekuler yang dilakukan para peneliti menyimpulkan spesies baru ini berbeda dengan C. Petani, kerabat dekatnya.

Mengutip laporan peneliti, Jawa merupakan salah satu daerah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi. Jawa juga merupakan pulau terbesar ketiga belas di dunia dengan luas sekitar 128 ribu km persegi. Hampir seluruh daratan Pulau Jawa berasal dari gunung berapi. Pulau ini terdiri 38 gunung berapi aktif yang membentuk punggung timur-barat.

“Hal ini menciptakan kondisi geografis dan ekologis pulau yang unik yang telah berkontribusi pada evolusi fauna gekkonid Jawa selama jutaan tahun, dengan banyak spesies menjadi endemik di pulau ini,” tulis laporan penelitian mereka, yang dimuat pada Jurnal Zootaxa, 2025.

Menurut para peneliti, adanya temuan baru menunjukkan potensi keanekaragaman hayati di pulau ini yang belum tergali. “Kami sangat menganjurkan penggunaan pendekatan taksonomi integratif yang telah membantu mengungkap keanekaragaman Cyrtodactylus yang tersembunyi dari Jawa dan tempat lain,” tulis Awal.

Taksonomi integratif merupakan metode yang memadukan karakteristik morfologi, genetika, ekologi, dan data lain dalam mengklasifikasikan spesies tertentu. Seperti halnya yang dilakukan para peneliti dengan temuan spesies C. pecelmadiun.

Berbeda dengan Cecak Rumah

Cecak rumah (Hemidactylus frenatus) mudah kita temukan di Indonesia. Selain di rumah, jenis ini kerap terlihat di bangunan serta gedung yang memakai lampu penerang. Cecak rumah adalah satwa nokturnal, kerap mengincar serangga yang mendekat ke lampu.

Cecak rumah punya kemampuan merayap di dinding vertikal tanpa tergelincir atau terjatuh. Bahkan satwa ini juga bisa merayap dengan posisi punggung menggantung. Semua itu berkat bantalan kakinya yang bisa menempel pada bidang seperti lem.

Ada jutaan rambut yang disebut setae pada permukaan jari kakinya yang melebar. Kondisi ini menghasilkan gaya intermolekuler lemah, disebut gaya Van der Waals, yang kuat menopang berat tubuhnya.

Sementara Cyrtodactylus bisa diartikan sebagai jarilengkung. Cecak ini memiliki ciri khas jari yang ramping dan melengkung, mengandalkan cengkeraman jari dibanding setae. Bentuk kaki yang demikian amat berguna saat diam atau bergerak pada permukaan yang kasar seperti pohon, atau batu.

Persamaannya, kedua satwa ini harus dipertimbangkan sebagai pengendali hama. Cecak rumah dikenal sebagai pemangsa nyamuk dan serangga lainnya. Seekor cecak rumah per harinya bisa makan 63 hingga 109 ekor nyamuk, tergantung kepadatan, menurut penelitian Gwendola K. Tkaczenko dan Adeline C. Fischer di Jurnal Herpetology (2014). “Cecak bisa jadi pengendali hama penyakit yang merugikan,” tulis dalam riset tersebut.

Begitu pula peran C. pecelmadiun yang cukup penting menjaga keseimbangan ekosistem melalui mekanisme rantai makanan. Peneliti Ahli Madya Herpetologi Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto, mengatakan masih perlu penelitian lebih jauh mengenai jenis makanan yang menjadi preferensi spesies baru ini. Diperkirakan, C. pecelmadiun pengendali populasi serangga di sekitar permukiman. Untuk itu, sebaiknya kita tidak membersihkan kebun dari gulma menggunakan herbisida.

Sebelumnya Sudah Ada Papeda dan Tehetehe

Penggunaan unsur kuliner dalam nama cecak tidak hanya pada Cyrtodactylus pecelmadiun. Sebelumnya, dua cecak mendapat unsur nama makanan. Mereka adalah Cyrtodactylus papeda dan Cyrtodactylus tehetehe.

Cyrtodactylus papeda merupakan cecak jarilengkung dari Kawasi, Pulau Obi. Penemunya juga Awal Riyanto, Peneliti Ahli Madya Herpetologi Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Awal Riyanto. Penemuan cecak bernama ilmiah Cyrtodactylus papeda tersebut berasal dari spesimen yang ditemukan tahun 2016 dan 2018 oleh Fata H. Faz dari Institut Pertanian Bogor.

Cecak papeda, cecak jarilengkung jenis baru ini telah terbit di Jurnal Herpetologica, edisi 1 Maret 2022, 78 [1], 30–39. Awal Riyanto menjelaskan genetik dan morfologi cecak ini mirip spesies Melanesia yaitu Cyrtodactylus papuensis. “Bedanya terlihat pada ukuran tubuhnya yang lebih besar, baris sisik besar paha lebih dari satu baris, dan alur precloacal yang dalam pada jantan,” katanya.

Awal menjelaskan, penamaan "papeda" merupakan upaya mempromosikan keragaman kuliner nusantara ke dunia. Papeda merupakan nama makanan tradisional dari Maluku dan Papua Barat yang terbuat dari sagu. Sagu ini makanan pokok masyarakat Papua yang menempati wilayah sungai, rawa, pesisir pantai, dan danau.

Awal mengatakan, cecak ini dapat ditemukan pada vegetasi rawa bakau, pinus, dan hutan sekunder yang berasosiasi dengan semak belukar. “Biasanya aktif dan ditemukan malam hari, antara 30 cm sampai 3 m di atas tanah dan sebagian besar pada batang pohon,” katanya.

Analisis molekular mengindikasikan, spesimen Cyrtodactylus dari Pulau Obi masuk dalam kelompok C. marmoratus. Populasi Cyrtodactylus dari Pulau Obi memiliki kekerabatan dekat dengan sampel C. papuensis dari Pulau Buru, Raja Ampat, dan selatan Papua Nuguini.

Tubuh C. papeda memiliki panjang rata-rata sekitar 60,7 milimeter. Bagian dorsumnya cokelat muda, memiliki pola dengan tujuh atau delapan tanda cokelat gelap melintang sempit dan tidak beraturan antara ketiak dan selangkangan.

BACA JUGA: Muncul Vandalisme Adili Jokowi, Begini Analisis LBH Yogyakarta dan Peneliti Perludem

Sisi punggung ekor bengkok, di bagian dasar memiliki pita gelap menyempit, melebar saat ekor mengecil. Cecak ini memiliki keunikan saat berada di alam maupun ketika diawetkan. “Semua area berwarna cokelat pucat dengan bagian dorsum berwarna abu-abu, krem, atau kuning kecokelatan, sedangkan supercilium dan canthus berwarna kuning keemasan,” kata Awal.

Cyrtodactylus Tehetehe

Ada pula cecak dengan unsur nama berupa Cyrtodactylus tehetehe. Cecak ini berasal Pulau Maratua, pulau yang merupakan anggota gugus kepulauan Derawan. Kepulauan tersebut masuk dalam wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Pemberian nama ini disamping untuk mengingat lokasi temuan, juga untuk ikut mendukung program pemerintah Wonderful Indonesia yaitu dengan mempopulerkan kuliner khas tradisional daerah melalui dunia iptek. “Tehetehe” diambil dari nama kuliner tradisional khas kepulauan Derawan yang bernama “Tehe-tehe”.

Kuliner tersebut terbuat dari beras ketan putih yang dicampur santan diberi sedikit garam, semuanya dimasukkan ke dalam cangkang bulu babi (Echinoidea spp) dan dimasak selama 30 menit. Kuliner tehetehe tidak tersedia setiap hari, tapi akan disajikan kepada tamu, seperti turis, atau saat acara khusus saja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Masih Pemulihan, Paus Fransiskus Mendadak Muncul di Hadapan Umat di Kota Vatikan

News
| Minggu, 06 April 2025, 21:47 WIB

Advertisement

alt

Warung Makan Jagoan Mahasiswa UII Jogja

Wisata
| Jum'at, 04 April 2025, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement