Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Utusan Khusus Sekjen PBB untuk isu air, Retno Marsudi, saat ditemui media dalam penutupan Pionir UGM, di lapangan Pancasila UGM, Sabtu (16/8/2025)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Dunia tengah menghadapi ancaman krisis air bersih di tengah berlangsungnya perubahan iklim. Semua pihak perlu turut mendukung upaya pelestarian air dengan melakukan efisiensi air sesuai kemampuan dan kewenangan masing-masing.
Hal ini disampaikan Utusan Khusus Sekjen PBB untuk isu air, Retno Marsudi, saat ditemui media dalam penutupan Pionir Gajah Mada, yang merupakan masa pengenalan kampus bagi mahasiswa baru UGM, di lapangan Pancasila UGM, Sabtu (16/8/2025).
BACA JUGA: Pemkab Klaten Klaim Jumlah Desa Terdampak Krisis Air Bersih Berkurang
Menurutnya, tantangan dunia kedepan terkait ketersediaan air cukup berat karena adanya perubahan iklim. “Saat ini saja satu dari empat orang di dunia sudah kesulitan mendapatkan akses terhadap safe dringking water. Empat dari 10 orang di dunia kesulitan mendapatkan akases untuk sanitasi,” katanya.
Karena akses terhadap air dan sanitasi yang kurang memadai bagi sebagian daerah di dunia, maka setiap hari ada 1.200 anak di bawah lima tahun yang meninggal karena diare. “Dari situ kita lihat tantangan kedepan mengenai air sangat luar biasa,” ungkapnya.
Maka untuk menekan laju krisis air, semua pihak harus terlibat dalam upaya pelestarian air dari pemerintah hingga masyarakat. “Diperlukan manajemen air yang baik, efisiensi yang dilakukan semua pihak. Mulai dari kita kalau bisa melakukan efisiensi air, itu sudah membantu upaya dunia mengatasi tantangan air,” ujarnya.
Dalam bukunya yang berjudul The Unhabitable Earth, David Wallace-Wells, mengatakan pada 2020, sebanyak 250 juta orang di Afrika menghadapi kekurangan air akibat perubahan iklim. Pada 2050, diprediksi satu miliar orang Asia kekurangan air.
Pada tahun yang sama, Bank Dunia mendapati ketersediaan air tawar di kota-kota di seluruh dunia dapat menurun sampai dua pertiga. Secara keseluruhan, menurut PBB lima miliar orang dapat kesulitan mengakses air tawar pada tahun tersebut.
Padahal, selama tiga dasawarsa kedepan diprediksi kebutuhan air untuk sistem pangan dunia naik sekitar 50%, untuk industri naik 50%-70% dan untuk energi 85%. Perubahan iklim berikut kekeringan parah yang mengikutinya akan memperkecil pasokan air dunia.
Dalam penelitian berjudul High and Dry, Bank Dunia mengugkapkan terkait dampak perubahan iklim, efisiensi air sama mendesak dan pentingnya dengan efisiensi energi. Tanpa adaptasi berarti dalam distribusi sumber daya air, Bank Dunia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu kawasan dapat menurun 7%-14%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
China meluncurkan Shenzhou-23 dengan misi eksperimen tinggal satu tahun di stasiun antariksa Tiangong di tengah persaingan antariksa dengan AS.
Mendag Budi Santoso memastikan kewajiban DMO CPO tetap berlaku meski ekspor komoditas strategis nantinya dilakukan melalui PT DSI.
Presiden Prabowo Subianto memberikan taklimat kepada 1.000 perwira TNI-Polri di Seskoad Bandung, sekaligus meresmikan perpustakaan dan museum
BGN berkoordinasi dengan Satgas MBG Polri untuk mengusut maraknya dugaan penipuan jual beli titik SPPG program Makan Bergizi Gratis.
KPK memeriksa tiga ASN Kemenhub sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api DJKA Kemenhub.