Advertisement
Sekolah Vokasi UGM Dorong Dampak Nyata lewat SNH2PM 2025
Seminar Nasional Hasil-Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (SNH2PM) 2025 kembali digelar Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) di tahun 2025. Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Agus Maryono (mengenakan baju batik) saat memberikan laporannya di podium di Gedung TILC SV UGM pada Sabtu (29/11/2025). - Harian Jogja // Catur Dwi JanatiÂ
Advertisement
SLEMAN—Seminar Nasional Hasil-Hasil Pengabdian kepada Masyarakat (SNH2PM) 2025 kembali digelar Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) pada tahun 2025. Agenda yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-16 SV UGM ini menampilkan hasil pengabdian kepada masyarakat yang mampu memperkuat kolaborasi berbasis riset untuk dampak yang berkelanjutan.
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM, Wiryanta menjelaskan SNH2PM digelar secara rutin sebagai event tahunan Sekolah Vokasi UGM. Kata Wiryanta, agenda semacam ini terbilang langka karena bukan riset yang menjadi materi utama seminar, melainkan pengabdian masyarakat yang dibahas secara komprehensif.
Advertisement
"Kalau kami cermati ini termasuk event langka. Karena biasanya seminar nasional itu seminar tentang research (penelitian). Ini seminar tentang pengabdian masyarakat, ini memang agak langka, tidak banyak kalau kami browsing-browsing," tutur Wiryanta, Sabtu (29/11/2025) di Gedung TILC SV UGM.
Wiryanta bilang gelaran seminar ini terus dipertahankan SV UGM sebagai wahana komunikasi, sharing, sinergi, dan kolaborasi antarpihak dalam ranah pengabdian masyarakat. Sinergi yang dijalin, lanjut dia, tidak hanya antara SV dengan mitra industri, tetapi juga dengan kelompok masyarakat, instansi pemerintahan, maupun perguruan tinggi lain.
BACA JUGA
"Dengan adanya komunikasi dan sinergi, kegiatan pengabdian masyarakat di berbagai tempat itu bisa berdampak dan berkelanjutan," ungkapnya.
Keberlanjutan ini dijelaskan Wiryanta senada dengan tema yang diusung SNH2PM tahun ini yakni "Kolaborasi Sekolah Vokasi dan Mitra Industri dalam Pengabdian Masyarakat yang Berdampak dan Berkelanjutan."
Ratusan peserta hadir dalam SNH2PM tahun ini. Akademisi, pemerintah daerah, komunitas, hingga praktisi hadir dalam SNH2PM yang menjadi ruang diseminasi praktik pengabdian kepada masyarakat berbasis riset dan inovasi terapan.
"Hari ini ada total 109 peserta yang tercatat di kami. Peserta internal dari Sekolah Vokasi ada 97 orang. Adapun 97 orang itu maksudnya 97 Ketua Proyek Pengabdian Masyarakat," terangnya.
Dari seminar ini, Wiryanta berharap mutu program pengabdian masyarakat semakin meningkat. Baik itu dari sisi perencanaan, pelaksanaan, dan yang paling penting, kata dia, dari sisi dampak atau impact-nya kepada masyarakat. Selain itu, dari SNH2PM ini dia berharap dampak pengabdian masyarakat semakin meluas, khususnya untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan daya saing industri serta daya saing pendidikan secara nasional.
"Tidak kalah pentingnya [harapan pelaksanaan SNH2PM] adalah menciptakan ekosistem kolaboratif. Nah, ini mungkin yang masih perlu selalu ditingkatkan, yaitu ekosistem kolaboratif antara akademisi, antara akademisi dan industri," katanya.
Direktur Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) Universitas Gadjah Mada, Rustamadji menjelaskan UGM melakukan program pengabdian masyarakat dengan socio-techno-entrepreneur innovation. Jadi lewat program itu, pengabdian masyarakat yang dilaksanakan, lanjut Rustamadji, mengandung unsur sosial, teknologi, maupun kewirausahaan.
"Kami melihat bahwa peran dari fakultas, sekolah ini menjadi pusat dari semua kegiatan kami. Karena resources dan juga jaringan ternyata luar biasa dimiliki oleh kawan-kawan yang ada di lapangan, yang ada di fakultas maupun sekolah. Terkhusus kepada Sekolah Vokasi, ini luar biasa sekali karena selain resources-nya yang luar biasa," ujarnya.
Selain itu, UGM, lanjut Rustamadji, juga terbuka untuk bekerja sama dengan universitas lainnya. Karena menurutnya sudah tidak zamannya lagi saling bersaing, tetapi zamannya kita adalah berkolaborasi, melangkah bersama untuk kemanusiaan.
"Kami berterima kasih kepada seluruh peserta seminar ini yang sudah berkenan untuk rawuh, untuk nanti kita sharing pengalaman, dan juga mendapatkan ilmu dari kawan-kawan kita. Terutama bagi kami di Direktorat Pengabdian adalah bagaimana metodologi yang paling pas untuk mendekati masyarakat," tuturnya.
Rustamadji berharap program-program pengabdian masyarakat dapat terus dikerjakan dan menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan. Bahwa nilai-nilai pengabdian ini, kata Rustamadji, tidak hanya bermuara kepada gelar akademik dan pencapaian kompetensi, tetapi juga memperluas ranah kita bagi bangsa dan negara, bagi masyarakat secara langsung.
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Agus Maryono mengatakan pihaknya mendorong kegiatan masyarakat bersama industri. Dengan kolaborasi itu, harapan Agus, dana pengabdian masyarakat yang dikeluarkan dapat didampingi langsung oleh industri.
"Kami sudah mengeluarkan kira-kira selama enam sampai tujuh tahun ini Rp9 miliar untuk pengabdian masyarakat. Setiap tahun kira-kira Rp1,5 miliar. Kami harapkan industri masuk dan kita bergerak bersama," tegasnya.
Dalam rilisnya, Agus juga menegaskan jika SV UGM berkomitmen memperkuat kontribusi pengabdian kepada masyarakat yang bersumber dari keahlian terapan. Melalui SNH2PM 2025, SV UGM menegaskan komitmennya dalam membangun jejaring, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui pendekatan keilmuan yang relevan dan aplikatif.
"Sekolah Vokasi UGM terus mendorong pengembangan program pengabdian yang langsung memberi manfaat bagi masyarakat. Melalui SNH2PM, kami memastikan inovasi dan keterampilan terapan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan," tandasnya.
Dalam momen SNH2PM 2025 ini turut diserahkan hasil pengabdian masyarakat oleh Departemen Teknik Kebumian SV UGM berupa Peta Kependudukan dan Peta Batas Wilayah Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, serta penyerahan hasil pengabdian berupa Buku Profil dari Padukuhan Blimbingsari, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman.
Dalam sesi diskusi panel, Ketua KWT Pawon Gendis (WONDIS), Dwi Martuti Rahayu memaparkan materinya yang bertema "Cokelat Lokal, Dampak Global: Praktik Industri Berkelanjutan dari Kulonprogo." Tema itu dibahas Dwi dengan menggarisbawahi pemberdayaan komunitas lokal melalui inovasi produk berbasis potensi daerah.
Sementara, Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan, Kurniawan dalam seminar ini membahas "Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Implementasi Program Keistimewaan DIY: Sinergi Budaya, Ekonomi, dan Kemandirian Lokal." Materi ini menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan daerah, budaya, dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
DPR Desak Usut Asal Kayu Gelondongan Hanyut saat Banjir Sumatera
Advertisement
Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



