Advertisement
UGM Lantik 901 Insinyur, Perkuat Peran Hayati untuk Pangan
Universitas Gadjah Mada melantik sebanyak 901 insinyur baru pada periode II Tahun 2025 pada Selasa (13/1/2026) di Grha Sabha Pramana. - Istimewa // UGM
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Kebutuhan bangsa terhadap sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pangan global kian mendesak, seiring perubahan iklim, tekanan populasi, dan tuntutan keberlanjutan.
Kondisi ini menempatkan peran insinyur bidang hayati sebagai garda depan dalam menjaga ketahanan pangan nasional, sebagaimana disampaikan Universitas Gadjah Mada (UGM) saat melantik ratusan insinyur baru.
Advertisement
Universitas Gadjah Mada melantik sebanyak 901 insinyur baru pada Periode II Tahun 2025, Selasa (13/1/2026), di Grha Sabha Pramana. Dari jumlah tersebut, 762 lulusan berasal dari Fakultas Teknik, 104 dari Fakultas Peternakan, dan 35 dari Fakultas Kehutanan. Penambahan ini membuat total lulusan profesi insinyur UGM kini mencapai 7.314 orang.
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, menegaskan bahwa tantangan global menuntut Indonesia memiliki sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh, inovatif, dan berintegritas. Menurutnya, insinyur bidang hayati memegang peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan bangsa.
BACA JUGA
Ia menilai, insinyur hayati berperan memastikan ketersediaan protein hewani dan nabati, meningkatkan produktivitas pangan nasional, serta menjamin keamanan dan kesejahteraan hewan. Indonesia, kata Budi, membutuhkan insinyur yang mampu membangun industri pangan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
“Bangsa ini memerlukan insinyur yang mampu menopang industri pangan berbasis teknologi, mulai dari sistem pangan, pakan, pertanian digital, bioteknologi, hingga tata kelola rantai pasok,” ujarnya.
Budi juga menekankan nilai moral yang melekat pada lulusan UGM. “Sebagai alumni UGM, saudara mewarisi integritas cendekiawan dan keberpihakan pada kepentingan bangsa. Nilai inilah yang menjadi kompas moral dalam setiap keputusan profesional yang saudara ambil,” katanya.
Salah satu lulusan Fakultas Kehutanan, Ir. Rudianta Cahyana Nugraha, mengaku gelar profesi insinyur menjadi bekal untuk berkontribusi lebih luas bagi bangsa, khususnya dalam mendorong pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
“Di era yang menuntut profesionalisme dan keahlian, kami mewakili rimbawan yang mengelola hutan, yang kini banyak disorot akibat berbagai bencana, menghadapi tantangan besar yang harus dijawab,” ujarnya.
Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menambahkan bahwa insinyur masa kini tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan teknis. Menurutnya, insinyur baru juga harus memegang teguh integritas dan kepemimpinan.
“Insinyur tidak hanya dituntut untuk membangun, tetapi juga merancang masa depan yang tangguh, inklusif, dan berkeadilan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Ekstrem Rusak 5 Wilayah DIY, Pohon Tumbang Paling Banyak
- 1.337 Keluarga di Bantul Lulus Mandiri dan Keluar dari Program PKH
- Pelajar Meninggal Ditabrak Bus di Dekat SPBU di Temon Kulonprogo
- Terjerat Kasus Penganiayaan, Valentino Reivan Jadi DPO Polresta Jogja
- Bantul Siapkan Uji Aplikasi Satria KDMP untuk Dua Koperasi
Advertisement
Advertisement





