Advertisement
UGM Ciptakan Padi Gamagora 7, Solusi Tinggi Gizi dan Tahan Hama
Pemulia Tanaman Pangan UGM, Taryono, sedang menyampaikan mengenai inisiasi penciptaan varietas padi Gamagora 7 di Fakultas Pertanian UGM, Kamis (15/1/2026). Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono.
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Taryono, Guru Besar Ilmu Pemuliaan Tanaman Pangan UGM, memperkenalkan varietas padi unggul Gamagora 7 yang adaptif terhadap perubahan iklim, tahan hama, serta memiliki kandungan gizi tinggi untuk mendukung ketahanan pangan dan pencegahan stunting di Indonesia.
Ditemui di Fakultas Pertanian (Faperta) UGM, Kamis (15/1/2026), Taryono menceritakan proses panjang penciptaan Gamagora 7. Varietas ini dikembangkan sejak 2006 bersama Supriyanta melalui program konsorsium internasional yang didanai International Atomic Energy Agency (IAEA).
Advertisement
“Gamagora 7 itu nama varietas padi unggul nasional. Kalau Gamagora saja itu merek dagang benih yang diciptakan UGM,” kata Taryono.
Padi varietas lokal Rajalele dari Klaten dijadikan bahan mutasi menggunakan sinar gamma. Dari proses ini lahir dua galur utama: Gamagora 6 dan 7. Gamagora 7 memiliki tinggi tanaman sekitar 110 cm dan umur panen lebih pendek, yakni 104 hari.
BACA JUGA
Setelah uji multi lokasi dan seleksi galur intensif, Gamagora 7 dinyatakan varietas terbaik oleh Kementerian Pertanian pada 2022. Varietas ini tahan terhadap hama wereng batang cokelat biotipe 2, penyakit hawar daun patotipe III, dan penyakit blast ras 033, 073, serta 133. Produktivitasnya mencapai rata-rata 7,95 ton per hektare, dengan potensi maksimal 9,8 ton GKG per hektare.
Selain adaptif dan produktif, Gamagora 7 juga unggul dari sisi gizi. Beras yang dihasilkan, Presokazi (Premium Rice Kaya Gizi), mengandung protein 8,54%, zat besi 2,64 mg/100 g, seng 3,42 mg/100 g, dan vitamin B6 0,33 mg/100 g. Kandungan ini lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding, Inpari 4 dan Inpari 12. Taryono menyebut beras ini potensial untuk membantu mengatasi stunting, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil.
Taryono menginisiasi Gamagora 7 bersama rekan civitas Faperta UGM, Supriyanta sejak 2006. Kala itu, ia mendapat tawaran dari konsorsium internasional yang didanai oleh International Atomic Energy Agency (IAEA yang berbasis di Wina, Austria.
IAEA ternyata membuat konsorsium peneliti seluruh dunia dengan harapan ada penggunaan teknologi tenaga atom untuk merakit varietas tanaman—mayoritas tanaman pangan. Anggota konsorsium berasal dari sejumlah negara, baik negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Dua tahun setelahnya, program tersebut dimulai. Taryono dan Supriyanta memilih tiga komoditas uji: padi, wijen, dan kacang tanah. Terhadap padi, mereka memiliki koleksi beberapa benih padi varietas lokal. Padi Rajalele dari Klaten terpilih untuk dimutasi lewat penyinaran bahan radioaktif—sinar gamma.
Hasil iradiasi sinar gamma menghasilkan dua galur utama: Gamagora 6 dan 7. Gamagora 7 memiliki tinggi tanaman sekitar 110 centimeter (cm) dengan umur lebih pendek dibandingkan 6.
“Saya minta Pak Supriyanta untuk mencatat dan menyeleksi nomor-nomor galur. Ada dua belas nomor. Seleksi juga penting soalnya padi hasil mutasi itu tidak stabil. Setiap generasi ada penyimpangan-penyimpangan,” katanya.
Kajian secara intensif terhadap nomor-nomor galur tersebut dilakukan setelah Taryono menjadi Kepala Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM pada 2018. Mulai dari uji pendahuluan hingga uji lanjut yang telah dilakukan, ia lantas mengajukan proposal pendanaan dari Kementerian Pertanian untuk melakukan penelitian dalam mendukung ketahanan pangan nasional pada 2019.
Pada tahun inilah ia mencetuskan padi amphibi yang memiliki karakter unggul adaptif terhadap perubahan iklim, mampu ditanam di lahan sawah dan gogo rancah. Varietas padi amphibi ini bisa menjadi solusi atas penurunan produksi padi di Indonesia akibat perubahan iklim global, baik karena El Nino dan La Nina dan dampak alih fungsi lahan sawah ke nonsawah yang mencapai 96.512 hektare per tahun.
“Kami akhirnya dapat pendanaan untuk melakukan uji multi lokasi pada 2020. Ketika itu kami gunakan sepuluh nomor galur dari 23 yang kami punya,” ucapnya.
Uji coba dilakukan di lahan sawah dan gogo. Nama varietas yang semula G1 hingga G23, Taryono ubah menjadi Gamagora (Gadjah Mada Gogo Rancah). Lewat hasil sidang pelepasan galur pada 2022, Gamagora 7 muncul sebagai varietas terbaik menurut Kementan lantaran sifatnya yang tahan terhadap berbagai hama dan penyakit.
Apabila menilik dari produktivitasnya, Gamagora 7 sebenarnya hanya mampu menghasilkan maksimal 9 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar (ha). Data dari beberapa daerah yang telah panen uji potensi, angka rata-rata panen yang didapat 7,95 ton per hektare dengan potensi maksimal 9,8 ton padi kering panen. Adapun umur tanaman lebih pendek dari varietas lain yaitu 104 hari panen.
Selain memiliki karakter yang adaptif, keunggulan Gamagora 7 tahan hama dan penyakit. Gamagora 7 memiliki ketahanan cukup tinggi terhadap hama wereng batang cokelat biotipe 2, penyakit hawar daun patotipe III, serta penyakit blast ras 033, 073, dan 133.
Gamagora 7 mendapat SK Pelepasan Kementerian Pertanian pada 28 Maret 2023. Komersialisasi varietas mulai dilakukan secara besar-besaran. Uji coba juga dilakukan pada lahan sawah di sejumlah daerah di sembilan lokasi, yaitu Pati, Wonogiri, Banyumas, Blora, Cepu dan Ngawi Jawa Timur.
Beras Presokazi dan Tengkes
Taryono menyampaikan PIAT UGM pada 2025 telah memproduksi 100 ton benih. Angka produksi yang tergolong besar ini menunjukkan ketertarikan pasar terhadap Gamagora 7. Apalagi varietas ini juga menghasilkan beras pulen lantaran induk benih adalah Rajalele.
“Beras yang dihasilkan dari varietas ini kami beri nama beras Presokazi [Premium Rice Kaya Gizi],” katanya.
Beras Presokazi ia klaim bisa ikut mengatasi persoalan tengkes atau stunting lantaran memiliki kandungan gizi lebih tinggi dibandingkan dengan beras dari beberapa varietas padi.
Berdasarkan data analisis gizi, Gamagora7 memiliki kandungan protein sebesar 8,54%, lebih tinggi dibandingkan Inpari 4 (8,31%) dan Inpari 12 (8,02%). Selain itu, kandungan zat besi (Fe) dan seng (Zn) pada Gamagora7 juga tercatat lebih tinggi, masing-masing 2,64 mg/100 mg dan 3,42 mg/100 mg, dibandingkan varietas pembanding.
Tak hanya itu, kadar vitamin B6 pada Gamagora7 mencapai 0,33 mg/100 mg, melampaui Inpari 4 dan Inpari 12. Sementara kandungan karbohidrat ketiga varietas relatif sebanding, Gamagora7 tetap menunjukkan keunggulan pada unsur mikro yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
UGM menilai kombinasi kandungan protein, zat besi, dan seng yang lebih tinggi menjadikan Gamagora7 sebagai beras dengan nilai gizi tinggi dan berpotensi berperan dalam upaya pencegahan stunting, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Peta Baru Pendidikan Nasional, Sekolah Rakyat Dibangun Massal
Advertisement
Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif
Advertisement
Berita Populer
- Warga Dengkeng Bantul Amankan Sejumlah Remaja, Polisi Temukan Pil Sapi
- Polisi Gagalkan Tawuran Remaja di Umbulharjo, Clurit Disita
- Gudang Kayu di Bantul Terbakar, Kerugian Capai Rp48 Juta
- Kelurahan Gedongkiwo Jogja Optimalkan Transporter untuk Kelola Sampah
- BPD DIY Serahkan Ambulans Baru untuk RSUD Prambanan
Advertisement
Advertisement



